
Jakarta – Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, PT Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc mengumumkan kemitraan strategis untuk memperkuat upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia melalui peningkatan edukasi dan akses layanan kesehatan bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat luas. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bagian dari kontribusi bersama dalam memperkuat pencegahan DBD di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan kesehatan yang komprehensif. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, rata-rata kasus DBD dalam lima tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan 20 tahun sebelumnya. Siklus puncak kasus yang sebelumnya terjadi sekitar 10 tahun sekali kini berubah menjadi sekitar tiga tahun atau bahkan kurang.
Penyakit ini juga tidak lagi bersifat musiman karena kini dapat terjadi sepanjang tahun dan menyerang semua kelompok usia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan individu, namun juga memengaruhi produktivitas keluarga hingga ekonomi nasional. Data BPJS Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus rawat inap terkait DBD sepanjang 2024 dengan total pembiayaan mencapai sekitar Rp3 triliun.
Melalui kemitraan ini, Takeda dan Halodoc menghadirkan berbagai inisiatif, mulai dari edukasi bagi tenaga kesehatan terkait DBD dan pencegahannya hingga edukasi publik melalui platform digital Halodoc. Masyarakat juga dapat mengakses layanan konsultasi dokter guna memperoleh informasi akurat mengenai DBD dan langkah pencegahan yang dapat dilakukan, termasuk vaksinasi. Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht mengatakan, “Dengue merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa, hingga saat ini belum ada obat yang spesifik untuk menyembuhkannya, sehingga penanganannya lebih berfokus pada pengelolaan gejala. Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting.
Sebagai mitra dari Kementerian Kesehatan RI, Takeda berkomitmen untuk terus mendukung upaya menuju ‘Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030’, di antaranya melalui peningkatan pemahaman masyarakat dan kolaborasi lintas sektor. Kami melihat kesamaan tujuan dengan Halodoc dalam meningkatkan literasi publik terkait dengue, terutama dalam hal pencegahaan, dan kemitraan ini menjadi salah satu langkah konkret untuk memperluas jangkauan edukasi tersebut.”
Senada dengan hal tersebut, CEO & Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta menyampaikan, “Sebagai ekosistem kesehatan digital dengan lebih dari 20 juta pengguna aktif, Halodoc berkomitmen mempermudah akses layanan tepercaya, termasuk solusi terintegrasi DBD mulai dari edukasi hingga langkah preventif seperti vaksinasi. Mengingat besarnya beban penyakit ini, kemitraan kami dengan Takeda hadir untuk memperkuat edukasi medis yang akurat sekaligus memperluas proteksi bagi masyarakat. Upaya ini membuahkan hasil nyata, di mana akses layanan vaksinasi DBD di Halodoc melonjak hampir 2 kali lipat pada kuartal-1 2026 dibandingkan kuartal-4 2025. Ke depan, kami berharap dapat menjangkau dan mengedukasi lebih banyak lagi masyarakat Indonesia.”
Momentum Pekan Imunisasi Dunia yang diperingati setiap akhir April turut menjadi pengingat pentingnya langkah pencegahan sebagai fondasi perlindungan kesehatan masyarakat. Dalam konteks DBD, upaya pencegahan yang konsisten dan komprehensif dinilai semakin relevan di tengah risiko penularan yang berlangsung sepanjang tahun dan dipengaruhi perubahan pola cuaca. Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K) menekankan bahwa DBD memiliki karakteristik unik karena perjalanan penyakitnya tidak selalu dapat diprediksi. “Seorang anak dengan gejala awal DBD yang umum, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah, kadang dapat terjadi perburukan yang cepat yaitu terjadi perdarahan hebat dan syok.
Selain itu dapat terjadi komplikasi lain seperti kejang dan penurunan kesadaran. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Sekitar 75% kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5–44 tahun, dengan proporsi kematian terbesar, yaitu sekitar 41%, terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun, yang dapat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh yang masih berkembang serta keterlambatan dalam mengenali gejala. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus hingga perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif. Dalam praktiknya, tenaga kesehatan dapat membantu masyarakat memahami berbagai opsi pencegahan yang tersedia, termasuk imunisasi. Sejalan dengan persetujuan BPOM terbaru, imunisasi dengue direkomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun.”
Prof. Hartono menambahkan, “Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan dan perlindungan diri. Dengan langkah sederhana namun konsisten, kita dapat melindungi diri sendiri sekaligus orang-orang terdekat dari bahaya infeksi DBD.” Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM menegaskan bahwa DBD juga berdampak besar terhadap kelompok usia dewasa, khususnya usia produktif. “Sering kali dengue dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang anak-anak, padahal pada kelompok usia dewasa risikonya tetap tinggi dan dapat berdampak luas. Tidak sedikit pasien dewasa yang harus menjalani rawat inap akibat dengue, yang pada akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hingga produktivitas keluarga. Selain itu, pada kelompok usia dewasa, khususnya yang memiliki kondisi penyerta atau komorbiditas seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan kesehatan lainnya, risiko terjadinya komplikasi akibat dengue dapat menjadi lebih tinggi. Kondisi ini dapat memperberat perjalanan penyakit dan meningkatkan kebutuhan perawatan medis yang lebih intensif. Padahal, pencegahan yang dilakukan sejak awal dapat membantu mengurangi risiko kondisi yang lebih serius.”
Ia melanjutkan, “Karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjadikan pencegahan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga lingkungan hingga mempertimbangkan langkah perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif. Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk lebih proaktif dalam melindungi diri dan keluarga, termasuk dengan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai opsi pencegahan yang tersedia, seperti imunisasi, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.”
Perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu, termasuk meningkatnya suhu udara, turut meningkatkan risiko penyebaran DBD. Karena itu, langkah pencegahan dinilai perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengendalian lingkungan, peningkatan kesadaran masyarakat, hingga pemanfaatan inovasi kesehatan sebagai bagian dari perlindungan yang lebih menyeluruh. Melalui kolaborasi ini, Takeda dan Halodoc berharap semakin banyak pihak dapat terlibat aktif dalam memperkuat upaya pencegahan DBD di Indonesia sehingga mampu menurunkan beban penyakit sekaligus melindungi kesehatan masyarakat secara luas.