View AllNews

Sosial

Daerah

Latest News

Selasa, 18 Agustus 2026

13.881 Warga Mengungsi, Astamaops Kapolri Pastikan Penanganan Gempa Manggarai Bergerak Cepat

 


Manggarai, NTT, 17 Agustus 2026 — Polri memaksimalkan operasi kemanusiaan untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Keseriusan tersebut ditunjukkan dengan turunnya langsung Astamaops Kapolri Komjen Pol. Dr. Muhammad Fadil Imran, M.Si. ke wilayah terdampak untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.


Pada Senin (17/8/2026), Astamaops Kapolri bersama Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, S.I.K., M.H. dan Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah, S.I.K., S.H., M.Si., mendatangi Posko Pengungsi Barang Kolo, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok.


Berdasarkan data yang dilaporkan Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah pada 17 Agustus 2026 pukul 23.00 WITA, tercatat 163 korban, terdiri dari 27 orang meninggal dunia, 32 orang luka berat, dan 104 orang luka ringan.


Kapolres Manggarai juga melaporkan terdapat 45 titik posko pengungsian yang tersebar di delapan kecamatan dengan total 13.881 pengungsi. Data tersebut bersifat dinamis dan terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan.


Datang, Cek, Langsung Bantu


Sekitar pukul 12.40 WITA, Astamaops Kapolri tiba di Posko Pengungsi Barang Kolo. Setibanya di lokasi, Astamaops Kapolri langsung mengecek kondisi pengungsi dan kebutuhan masyarakat.


Dalam kunjungan tersebut, Polri membagikan 2.500 paket bantuan sosial/sembako, menyalurkan tenda darurat, serta menyerahkan 2 unit Starling untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat.


Setiap paket sembako berisi beras 5 kilogram, gula 1 kilogram, mi instan, teh celup, kecap, biskuit, dan minyak goreng.


Bantuan tersebut melengkapi dukungan yang telah didistribusikan ke berbagai posko berupa tenda, terpal, genset, makanan dan minuman, serta bantuan kesehatan.


Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah menegaskan bahwa jajaran Polri berupaya memastikan masyarakat tidak menghadapi bencana seorang diri.


“Kami pastikan masyarakat tidak sendiri. Kami hadir di posko, membantu evakuasi, menyalurkan sembako, menyiapkan tenda darurat, memberikan pelayanan kesehatan, sekaligus menjaga keamanan. Apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di lapangan kami data dan kami koordinasikan agar segera ditindaklanjuti,” ujar Levi.


Bersinergi, Satu Gerak untuk Masyarakat


Penanganan gempa di Manggarai dilakukan secara terpadu dan lintas instansi. Polri tidak bekerja sendiri, melainkan bersinergi dengan TNI, Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan, dan berbagai unsur masyarakat.


Masing-masing unsur bergerak sesuai tugasnya. TNI mendukung evakuasi, pengamanan, mobilisasi personel dan logistik. Basarnas fokus pada pencarian, pertolongan dan evakuasi korban. BPBD bersama pemerintah daerah mengoordinasikan penanganan kebencanaan, pendataan, kebutuhan pengungsi serta pengelolaan posko.


Sementara itu, tenaga kesehatan memberikan pelayanan medis dan memantau kondisi para pengungsi, termasuk kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan penyandang disabilitas.


Polri berperan dalam evakuasi, pelayanan posko, distribusi bantuan, pengamanan, patroli serta memastikan koordinasi antarlembaga berjalan efektif.


Sinergi tersebut penting karena jumlah pengungsi mencapai ribuan orang dan tersebar di puluhan titik.


Kapolres Manggarai menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci agar penanganan tidak berjalan sendiri-sendiri.


“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Semua unsur punya peran masing-masing dan harus saling menguatkan. TNI, Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan dan masyarakat semuanya bergerak untuk satu tujuan, yaitu menyelamatkan dan membantu masyarakat terdampak,” kata Levi.


45 Posko, 13.881 Pengungsi


Menurut data Kapolres Manggarai, 45 posko pengungsian tersebar di delapan kecamatan, yakni Langke Rembong, Reok, Reok Barat, Cibal, Cibal Barat, Lelak, Wae Rii, dan Satar Mese.


Total terdapat 13.881 pengungsi yang berada di posko-posko tersebut.


Jumlah pengungsi terbesar berada di Kecamatan Reok dan Wae Rii. Kecamatan Reok memiliki 7 posko dengan 4.488 pengungsi, sedangkan Wae Rii memiliki 17 posko dengan 4.476 pengungsi.


Beberapa titik dengan jumlah pengungsi besar antara lain Posko Robek 1.500 jiwa, Posko Barangkolong 1.330 jiwa, Posko Golo Mendo 1.058 jiwa, Posko Tengku Romot 602 jiwa, dan Posko Golo Sita 583 jiwa.


Tantangan di Lapangan


Kapolres Manggarai mengatakan penanganan memiliki sejumlah tantangan, mulai dari luasnya wilayah terdampak, banyaknya titik pengungsian, kebutuhan logistik yang berbeda-beda, hingga data yang terus bergerak.


“Tantangannya cukup besar. Pengungsi tersebar di 45 titik, kebutuhan setiap posko berbeda, sementara data di lapangan terus bergerak. Karena itu koordinasi harus cepat. Ketika satu posko membutuhkan sesuatu, kita harus segera tahu dan mencari solusinya bersama,” ujar Levi.


Di tengah situasi tersebut, personel Polri juga melakukan patroli untuk menjaga keamanan dan mencegah potensi gangguan kamtibmas.


“Dalam situasi bencana, masyarakat membutuhkan bantuan sekaligus rasa aman. Jadi kami tidak hanya mengantar bantuan, tetapi juga memastikan kondisi di pengungsian tetap aman. Personel akan terus berada di lapangan,” tegas Levi.


Ratusan Personel Bergerak


Operasi kemanusiaan di Manggarai melibatkan 100 personel Polri, 31 personel TNI, 68 personel Brimob termasuk Resimen 2 Pelopor Korps Brimob Polri, 5 personel Basarnas, dan 6 personel BPBD Jawa Timur.


Personel gabungan melakukan evakuasi korban, pelayanan pengungsi, distribusi bantuan, dukungan kesehatan, pengamanan lokasi, serta patroli.


Berdasarkan laporan Kapolres Manggarai, hingga 17 Agustus 2026 pukul 23.00 WITA tercatat 2.398 fasilitas mengalami kerusakan, meningkat dari data sebelumnya sebanyak 2.081 fasilitas.


Kerusakan meliputi fasilitas pemerintah, pendidikan, fasilitas umum, fasilitas masyarakat, dan fasilitas kesehatan.


Data Bergerak, Respons Harus Cepat


Polri bersama seluruh unsur terkait terus memperbarui data korban, pengungsi, kerusakan, serta kebutuhan masyarakat sebagai dasar menentukan prioritas penanganan berikutnya.


Setelah meninjau Kecamatan Reok, Astamaops Kapolri bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, untuk melihat langsung kondisi korban dan penanganan bencana.


Kapolres Manggarai memastikan jajarannya akan terus berada bersama masyarakat.


 “Data berubah, kebutuhan berubah, maka respons juga harus cepat menyesuaikan. Prinsip kami sederhana: siapa yang membutuhkan harus kami bantu, dan di mana masyarakat membutuhkan kehadiran Polri, di situ personel kami berada,” ujar Levi.


Operasi kemanusiaan di Manggarai menunjukkan bahwa penanganan bencana merupakan kerja bersama. Polri hadir, TNI bergerak, Basarnas menyelamatkan, BPBD mengoordinasikan, tenaga kesehatan melayani, pemerintah daerah memastikan kebutuhan warga, dan masyarakat serta relawan ikut menguatkan.


Semua bergerak dalam satu tujuan: menyelamatkan, membantu, dan memastikan masyarakat terdampak tidak menghadapi bencana sendirian. :::

Senin, 17 Agustus 2026

Dansektor Tegaskan Karhutla Bromo Harus Tuntas, Tak Boleh Sisakan Bara

 


PROBOLINGGO – Upaya memastikan kawasan Gunung Bromo benar-benar aman dari Karhutla terus dilakukan Satgas Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj. Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, S.Sos., M.M.S., M.Han., selaku Dansektor, turun langsung meninjau kawasan Puncak P30 (Pundak Lembu), Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, untuk memastikan titik api (firespot) telah padam sepenuhnya.


Peninjauan dilakukan di tengah medan yang berat untuk memvalidasi kondisi riil di lapangan. Selain memastikan tidak ada lagi firespot, Satgas juga mewaspadai kemungkinan ground fire atau bara yang masih tersembunyi di bawah permukaan tanah dan dapat kembali menyala ketika tertiup angin kencang. Karena itu, penyisiran dilakukan secara detail pada area terdampak kebakaran.


“Kami hadir langsung di titik P30 untuk memastikan seluruh firespot sudah padam total. Evaluasi menyeluruh terus dilakukan agar penanganan Karhutla di kawasan Bromo ini tuntas tanpa menyisakan potensi bahaya baru,” tegas Kolonel Wahyu. Memasuki tahap lanjutan, fokus Satgas diarahkan pada cooling down dan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara yang kembali berkembang menjadi titik api.


Pemantauan di lapangan juga diperkuat dengan pemantauan udara guna mendeteksi kemungkinan asap maupun hotspot yang masih tersisa. TNI, Polri, BPBD, relawan dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) terus bergerak dalam satu koordinasi untuk mempercepat pengamanan kawasan sekaligus mencegah kebakaran susulan.


Bagi Satgas Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj, api padam bukan berarti tugas selesai. Proses pendinginan, penyisiran dan pemantauan akan terus dilakukan hingga kawasan benar-benar aman. Bersamaan dengan itu, pemulihan lingkungan dan evaluasi jalur wisata terus dimatangkan dengan satu prioritas: Bromo aman, masyarakat terlindungi, dan alam tetap lestari. ::::

Minggu, 16 Agustus 2026

Tim Gabungan Pastikan TNBTS Aman, Bara Tersembunyi Jadi Perhatian Utama

 


PROBOLINGGO – Perkembangan penanganan Karhutla di TNBTS mulai menunjukkan hasil. Kondisi kawasan secara umum semakin kondusif, namun Satgas Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj tetap melakukan penyisiran dan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.


Minggu (16/8/2026), Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan selaku Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj bersama Dandim 0819/Pasuruan Letkol Inf Boga Bramiko, BNPB, BPBD dan petugas TNBTS mendampingi tim lapangan utusan khusus Presiden bidang pariwisata meninjau langsung sejumlah lokasi terdampak.


Peninjauan dilakukan untuk melihat progres penanganan sekaligus memastikan pendinginan berjalan menyeluruh. Sejumlah area masih menjadi perhatian karena memiliki potensi menyimpan bara, terutama pada medan dengan kontur tinggi dan sulit dijangkau. Di wilayah Pasuruan, luasan kawasan terdampak tercatat sekitar 1.120,3 hektare.


Dansektor memastikan seluruh unsur tetap bekerja dalam satu koordinasi. TNI, Polri, BNPB, BPBD, petugas TNBTS, relawan dan berbagai unsur terkait terus melakukan pemantauan, penyisiran serta pendinginan sebagai langkah mencegah munculnya kembali titik api.


Progres terus bergerak, kewaspadaan tetap dijaga. Satgas Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj akan terus mengawal penanganan hingga kawasan TNBTS benar-benar aman dan terkendali. Menjaga Bromo bukan hanya memadamkan api, tetapi memastikan alam tetap lestari untuk generasi mendatang. :::

Sabtu, 15 Agustus 2026

Cegah Api Kembali Berkobar, Danrem Pantau Langsung Pendinginan Kawasan TNBTS

 


PROBOLINGGO – Tidak ditemukannya titik api bukan berarti penanganan Karhutla di TNBTS berakhir. Karena itu, Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, S.Sos., M.M.S., M.Han., turun langsung meninjau proses penyisiran dan pendinginan di sejumlah kawasan terdampak, Jumat (14/8/2026).


Didampingi Dandim 0820/Probolinggo Letkol Inf Ribut Yudo Apriyantono, Danrem memastikan personel gabungan bekerja menyisir setiap area yang masih memiliki potensi menyimpan bara. Pendinginan dilakukan pada lokasi bekas terbakar untuk mencegah api kembali muncul dan meluas ke kawasan lainnya.


Di lapangan, TNI, Polri, BPBD, Damkar, Balai Besar TNBTS dan relawan bahu-membahu menangani dampak kebakaran. Danrem menyampaikan apresiasi atas kerja keras seluruh personel sekaligus menegaskan bahwa penanganan harus dilakukan sampai kondisi kawasan benar-benar aman.


“Yang kita kejar bukan hanya api yang terlihat, tetapi juga potensi api yang bisa muncul kembali. Karena itu penyisiran dan pendinginan harus dilakukan dengan teliti dan menyeluruh,” tegas Danrem.


Korem 083/Baladhika Jaya memastikan penanganan Karhutla akan terus dikawal bersama seluruh unsur terkait. Nihil api bukan akhir pengawasan. Selama masih ada potensi bara, kewaspadaan tetap dijaga. Targetnya jelas: TNBTS aman, kebakaran tidak berulang, dan kawasan konservasi tetap terlindungi. :::

Jhon Kogoya Serukan Masyarakat Nabire Bijak Sikapi Isu Jelang HUT RI ke-81

    


Nabire – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Provinsi Papua Tengah, Jhon Kogoya, mengajak seluruh masyarakat di Kabupaten Nabire untuk bersama-sama menjaga keamanan dan tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu negatif.


Jhon Kogoya mengatakan, menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI, masyarakat di Papua Tengah, khususnya Nabire, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai informasi yang beredar. Hal tersebut menyusul adanya isu mengenai larangan mengikuti kegiatan peringatan HUT RI yang disebut berasal dari kelompok-kelompok yang berseberangan.


Ia meminta masyarakat tidak langsung mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya karena dapat memicu keresahan dan mengganggu situasi keamanan yang selama ini telah terjaga.


“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang. Jangan mudah percaya dengan informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya. Kita harus bisa memilah informasi dan tidak memberikan kesempatan kepada pihak-pihak tertentu untuk memecah persatuan masyarakat,” kata Jhon.


Sebagai Ketua LMA sekaligus tokoh masyarakat, Jhon menegaskan bahwa kedamaian merupakan kepentingan bersama. Menurutnya, perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi alasan bagi masyarakat untuk saling bermusuhan ataupun melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.


“Kami para tokoh adat dan tokoh masyarakat sangat menginginkan Tanah Papua tetap aman dan damai. Karena itu, mari kita tinggalkan segala bentuk provokasi dan bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif, khususnya menjelang HUT Kemerdekaan RI,” ujarnya.


Lebih lanjut, Jhon menyampaikan bahwa pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat harus menjadi perhatian bersama. Salah satu sektor yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius adalah pendidikan.


Ia menilai masih terdapat anak-anak Papua yang harus berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Kondisi tersebut, kata Jhon, perlu menjadi perhatian pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar generasi muda Papua tidak kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak.


“Pendidikan merupakan salah satu kunci untuk membangun masa depan Papua. Anak-anak kita harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk bersekolah dan meraih cita-cita. Jangan sampai keterbatasan ekonomi membuat mereka kehilangan masa depan,” tuturnya.


Jhon menambahkan, pihaknya akan terus membangun komunikasi dan bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam mendorong program-program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan dan kesejahteraan.


Ia berharap momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk memperkuat persatuan dan kepedulian antarsesama.


“Mari kita rayakan kemerdekaan dengan menjaga kedamaian. Jangan terprovokasi oleh isu apa pun yang dapat mengganggu keamanan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan Nabire dan Tanah Papua yang aman, damai serta sejahtera,” pungkas Jhon Kogoya.

Gempa M 7,7 Guncang NTT, Satbrimob Polda NTT Gerak Cepat Evakuasi Korban dan Buka Akses

 


Nusa Tenggara Timur (NTT) baru saja diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7, Sabtu (15/8/2026). Di tengah situasi yang masih berlangsung, Komandan Satuan Brimob Polda NTT Kombes Pol. Afrizal Asri, langsung memerintahkan jajarannya bergerak cepat ke sejumlah titik terdampak.


Sebanyak 88 personel Batalyon B Satbrimob Polda NTT diterjunkan untuk melakukan evakuasi dan penyelamatan korban, mengamankan lokasi, membantu masyarakat, serta membuka akses jalan yang terdampak gempa. Perintah tersebut langsung direspons personel dari Batalyon B Pelopor yang bergerak menuju sejumlah wilayah terdampak, mulai dari Manggarai, Labuan Bajo, Ruteng, Ende hingga Maumere.


Di Labuan Bajo, personel Kompi 1 Batalyon B Pelopor melakukan patroli dan pengecekan hingga kawasan Hotel Jayakarta, Desa Gorontalo. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan dan terdapat wisatawan yang terdampak. Personel juga membantu dua WNA yang mengalami luka ringan akibat material bangunan serta mengantar WNA lainnya menuju RS Siloam Labuan Bajo.


Di Kabupaten Manggarai, personel Brimob turut bergerak melakukan penanganan di sejumlah titik terdampak. Di Ruteng, personel Kompi 2 Batalyon B Pelopor bergerak ke RSUD Ben Mboi untuk membantu mengevakuasi pasien keluar gedung menuju area yang lebih aman. Personel juga melakukan pembersihan puing-puing bangunan di Kantor Bank NTT Cabang Ruteng serta menyiapkan tenda di luar rumah sakit sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan gempa susulan.


Di Ruteng, personel Kompi 2 Batalyon B Pelopor bergerak ke RSUD Ben Mboi untuk membantu mengevakuasi pasien keluar gedung ke area yang lebih aman. Personel juga membersihkan puing-puing bangunan di Kantor Bank NTT Cabang Ruteng dan menyiapkan tenda di luar rumah sakit sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan bantuan kesehatan bagi warga.


Di Ende, personel Kompi 3 Batalyon B Pelopor bersama Kodim 1602 Ende dan Dinas Pekerjaan Umum bergerak membuka Jalan Trans Ende–Bajawa yang terdampak gempa. Sementara di Maumere, personel Kompi 4 Batalyon B Pelopor bersama unsur gabungan melakukan evakuasi reruntuhan di Terminal Penumpang Pelabuhan Lorens Say.


Dalam proses pencarian di Maumere, ditemukan tiga korban, dengan dua korban telah teridentifikasi meninggal dunia dan satu korban masih dalam proses identifikasi. Dua korban yang telah teridentifikasi yakni Barnadus Muda (66), yang meninggal karena syok, dan Maria Diana Meliana (54), yang meninggal setelah tertimpa reruntuhan bangunan terminal.


Saat masyarakat masih menghadapi kepanikan pascagempa, Brimob sudah berada di lapangan. Dari evakuasi korban hingga membuka akses jalan, personel Satbrimob Polda NTT dikerahkan untuk memastikan penanganan bencana berlangsung cepat dan terpadu.


Penanganan di sejumlah wilayah masih berlangsung. Satbrimob Polda NTT bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan dampak gempa serta mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. :::